ARTIKEL

SEJARAH SUMPAH PEMUDA

Sumpah Pemuda diawali dengan pergerakan di daerah dengan mendirikan organisasi yang bersifat kedaerahan. Konflik yang terjadi dengan penjajah bersifat lokal bukan nasional.

Berikut sekilas beberapa pergerakan organisasi pemuda disejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928:

1. 1915-1924: Berdirinya organisasi lokal misal Tri Koro Darmo yang kemudian menjadi Jong Java pada 1915, Jong Soematranen Bond pada 1917, dan Jong Islamieten Bond pada 1924.

2. 1926: Kongres Pemuda I berhasil dilaksanakan dengan berdirinya Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi lintas primordial dengan anggotanya dari seluruh Indonesia.

3. 1928: Kongres Pemuda II dilaksanakan dalam tiga rapat di gedung berbeda atas prakarsa PPPI. Rapat pada 28 Oktober 1928 melahirkan Sumpah Pemuda yang awalnya diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Sebelum kongres ditutup, WR Supratman menampilkan lagu ciptaannya Indonesia Raya yang mendapat sambutan meriah. Indonesia Raya kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia yang menjadi identitas bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda adalah rumusan hasil yang dicapai para peserta Kongres Pemuda II. Berikut rumusan hasil dan teks Sumpah Pemuda:

Poetoesan Kongres Pemoeda-Pemoeda Indonesia

Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia jang berdasarkan dengan nama Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Batak Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi, dan Perhimpoenan Peladjar Indonesia.

Memboeka rapat pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928 di negeri Djakarta. Sesoedahnja mendengar segala isi-isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini. Kerapatan laloe mengambil kepoetoesan:

Pertama Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloearkan kejakinan asas ini wadjib dipakai oleh segala perkoempoelan-perkoempoelan kebangsaan Indonesia.

Mengeloearkan kajakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar poetoesannja:
Kemajoean
Sedjarah
Bahasa
Hoekoem Adat
Pendidikan dan Kepandoean
Dan mengeloearkan penghargaan soepaja ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibatjakan dimoeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan.

Djakarta, 28 Oktober 1928

HARI SANTRI NASIONAL 22 OKTOBER 2020

Hari ini, tepatnya tanggal 22 Oktober 2020 merupakan peringatan Hari Santri Nasional. Pada peringatan tahun ini, diusunglah tema “Santri Sehat Indonesia Kuat”. Mengingat peringatan Hari Santri tahun ini berada di tengah Pandemi Covid-19.

Tepat 5 tahun ke belakang, Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai peringatan Hari Santri Nasional. Penetapan Hari Santri Nasional tersebut ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Tepatnya pada 22 Oktober 1945 terdapat momentum dimana terkandung perjuangan mempertahankan Indonesia dari kaum penjajah. Perjuangan tersebut merupakan suatu sikap untuk melawan penjajahan di negeri ini, mengingat pada saat itu Belanda berupaya menguasai Indonesia dengan membonceng sekutu.

Sejarah Hari Pahlawan: Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Hari Pahlawan diperingati setiap 10 November, merujuk pada Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Saat itu, kekuatan perlawanan rakyat Surabaya memperlihatkan kegigihan dalam menyerang Sekutu selama tiga minggu.

Setiap tanggal 10 November Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Peringatan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari nasional yang bukan Hari Libur. Produk hukum tersebut disahkan oleh Presiden Sukarno pada tanggal 16 Desember 1959.

Dipilihnya tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan mengacu pada pecahnya pertempuran besar di Surabaya pada tanggal 10 November 1945 antara pejuang Indonesia dan Sekutu, dalam hal ini tentara Inggris.

*** Local Caption *** Upacara Peringatan Tugu Pahlawan di Surabaya oleh Presiden Sukarno tgl 10/11/1951 A 15 T 1951 H 9

Buku Pertempuran Surabaya (1985) karya Nugroho Notosusanto menyebut, Pertempuran Surabaya merupakan pertempuran paling menegangkan dengan semangat patriotisme tinggi yang ditunjukkan bangsa Indonesia. Hal itu juga tergambar dari komentar Ricklefs dalam bukunya A History of Modern Indonesia Since C. 1200 bahwa Surabaya menjadi pertempuran paling sengit pada masa Revolusi. Pihak Inggris sendiri memandang pertempuran tersebut laksana inferno, neraka. Rencana Inggris untuk menguasai Surabaya paling lambat 26 November terlambat dua hari karena kegigihan para pejuang di Surabaya.

Meskipun kemudian Surabaya secara keseluruhan jatuh ke tangan Inggris, Pertempuran Surabaya juga mengubah cara pandang Inggris dan Belanda terhadap Indonesia. Inggris semakin mulai mempertegas posisinya sebagai pihak yang netral, tak perlu mendukung Belanda. Di sisi lain, Belanda mulai menyadari bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia mendapatkan dukungan yang luas dari rakyat, tak seperti gambaran mereka selama ini, hanya berasal dari kelompok pengacau sporadis (ekstremis).

Pertempuran yang diperingati setiap tanggal 10 November tersebut bukanlah pertempuran satu hari, tetapi melibatkan rangkaian pertempuran sejak akhir Oktober 1945 hingga akhir November 1945. Di dalamnya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yakni pertempuran pendahuluan, pertempuran 10 November, dan pertempuran akhir. Diperkirakan, pertempuran tersebut melibatkan hingga 20.000 pasukan TKR dari berbagai penjuru Jawa Timur yang didukung oleh rakyat pejuang hingga 140.000 orang.